Di tengah arus modernisasi yang terus mengikis tradisi lokal, Desa Margoyoso di Kecamatan Salaman, Magelang, tetap memelihara sebuah warisan kuliner yang sarat makna: Sayur Sura. Masakan ini bukan sekadar panganan musiman, melainkan simbol nilai-nilai hidup yang diwariskan secara turun-temurun. Sayur Sura hanya dimasak dan disantap pada bulan Suro (Muharam dalam kalender Hijriyah), sebagai bentuk peringatan dan penghormatan terhadap sejarah besar umat manusia: kisah Nabi Nuh dan peristiwa banjir besar. Sayur Sura : Semangkuk Rasa Syukur dari Desa Margoyoso Sayur sura merupakan masakan tradisional khas Desa Margoyoso yang hanya dimasak pada saat bulan Suro atau tahun baru Islam (Muharam). Sayur sura yang memiliki citarasa gurih nan kaya rempah ini tidak hanya dinikmati sebagai pendamping nasi, tetapi juga menyimpan makna kebersamaan serta rasa syukur. Sayur sura memiliki citarasa yang tidak jauh berbeda dengan masakan gulai, yang membedakan adalah isian atau bahan utama dari kedua masakan. Sayur sura berisi bahan yang cenderung mudah dan dapat menyesuaikan dengan bahan-bahan yang ada, dengan kata lain tidak adanya pakem tertentu yang mengharuskan bagaimana isian dari sayur sura. Sayur sura biasanya dibuat dengan menggunakan bahan-bahan sederhana yang mudah ditemukan di dapur, seperti: ● Tempe/tahu, kacang tanah, dan kedelai sebagai sumber protein nabati ● Empon-empon atau rempah beraroma seperti jahe, kunyit dan lengkuas ● Santan untuk menambah cita rasa gurih dan juga aroma. ● Bumbu halus yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, kemiri, ketumbar, jinten, garam, dan gula. Layaknya bahan yang tersedia, cara membuat sayur sura juga tergolong mudah dan tidak memerlukan keahlian tertentu. Berikut tahapan untuk membuat sayur sura yang dapat diikuti. 1. Haluskan bumbu gulai bersama empon-empon (jahe, kunyit, lengkuas). 2. Tumis bumbu halus hingga harum. 3. Tuang santan, aduk perlahan agar tidak pecah. 4. Masukkan tempe, kacang tanah, dan kedelai. Masak hingga bumbu meresap dan kuah sedikit mengental. 5. Koreksi rasa. Sajikan hangat dan nikmati bersama keluarga. Sayur sura tidak hanya sekedar makanan, namun juga salah satu simbol kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Margoyoso— bagaimana masyarakat dapat menciptakan rasa yang kaya dari bahan-bahan sederhana dengan penuh makna dan rasa syukur. Asal Usul yang Sarat Makna Menurut keyakinan masyarakat Margoyoso, tradisi sayur sura berasal dari kisah pasca-banjir besar Nabi Nuh. Setelah air surut dan bahtera Nabi Nuh mendarat dengan selamat, para pengikutnya mengumpulkan sisa-sisa bekal yang mereka miliki. Mereka mengumpulkannya dan memasaknya menjadi satu hidangan besar yang disantap bersama-sama. Tindakan ini bukan sekadar untuk bertahan hidup, tetapi juga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas keselamatan yang diberikan. Semangat ini kembali diwujudkan melalui tradisi sayur sura, sajian khas yang diracik dari bahan-bahan sederhana yang dapat dijumpai di dapur keluarga. Tidak lagi menyoal resep pasti, melainkan rasa syukur, kebersamaan, dan kesediaan menerima apa yang dimiliki. Nilai Filosofis di Balik Hidangan Sayur Sura Lebih dari sekadar sajian kuliner, sayur sura menyimpan nilai-nilai filosofis yang mendalam di balik kesederhanaanya. Melalui hidangan ini, masyarakat tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga turut mewariskan pandangan hidup kepada generasi berikutnya. 1. Nilai Religius atau Spiritual Tradisi sayur sura lahir sebagai bentuk peringatan atas kisah bahtera Nabi Nuh dan air bah, yang , yang kemudian dihayati sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas berkat keselamatan hidup. Bagi masyarakat Margoyoso, sayur sura membawa pesan bahwa rasa syukur sejatinya tidak hanya hadir saat kita sedang berkelimpahan, tetapi justru dapat tumbuh dari kesederhanaan saat kita mampu menerima dan memaknai apa yang ada. Hidangan ini disusun dari bahan-bahan seadanya yang tersedia di rumah—tanpa kemewahan, tanpa kepastian komposisi. Hal ini justru menjadi keunikan tersendiri, yaitu menjadikan kesederhanaan sebagai simbol rasa terima kasih kepada Tuhan atas anugerah kehidupan. 2. Nilai Sosial Sayur sura lumrahnya dimasak dan dinikmati bersama keluarga dan dibagikan kepada tetangga atau kerabat. Seringkali, warga juga saling bertukar masakan meskipun isiannya berbeda atau menikmatinya bersama-sama di masjid setempat. Tradisi ini memperkuat rasa memiliki, rasa saling terikat antar masyarakat, dan mempererat hubungan serta menumbuhkan semangat gotong royong di masyarakat. 3. Nilai Budaya-Ekologis Tradisi memasak sayur sura setiap memasuki bulan Suro/Muharram bukan hanya sekedar sajian musiman, melainkan sebuah wujud nyata kearifan lokal yang mencerminkan cara masyarakat memaknai hidup, berhubungan dengan sesama, serta menjalin relasi dengan alam dan Tuhan. . Kearifan ini terlihat dari cara warga memanfaatkan bahan-bahan lokal yang mudah dijangkau, seperti tempe, kacang tanah, kedelai, dan berbagai jenis rempah (empon-empon). Tidak ada resep yang pakem nan mengikat—isiannya fleksibel, mengikuti ketersediaan bahan di dapur masing-masing rumah. Hal ini mencerminkan nilai budaya yang adaptif, hemat, dan tidak bergantung pada bahan luar. Lebih dari itu, proses memasak dan menyantap Sayur Sura dilakukan dalam suasana kolektif dan partisipatif—setiap rumah tangga memasak sendiri, lalu berbagi atau saling tukar dengan tetangga. Inilah bentuk dari budaya gotong royong dan solidaritas yang masih kuat terjaga dalam kehidupan masyarakat desa Pewaris Nilai Lewat Rasa Melalui sayur sura, nilai-nilai budaya seperti kesederhanaan, kebersamaan, dan rasa syukur ditanamkan secara alami dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi ini juga menjadi media pewarisan nilai antar generasi, karena anak-anak belajar langsung dari orang tua mereka, bukan hanya tentang cara memasak, tapi juga tentang makna yang menyertainya. Dengan demikian, Sayur Sura menjadi simbol kearifan lokal yang holistik—mengandung nilai ekonomi, sosial, spiritual, sekaligus ekologis dalam satu praktik budaya yang hidup. Ia bukan sekadar makanan, tetapi juga alat pelestarian budaya dan penguat identitas komunitas yang patut dijaga keberlanjutannya. (Oleh Tim KKN-PPM UGM (Rena)